(Taiwan, ROC) – Kepala Kantor Perwakilan Taiwan di Amerika, Hsiao Bi-khim pada hari Sabtu tanggal 21 Januari waktu setempat, saat menerima wawancara khusus oleh media Associated Press Amerika, menyampaikan bahwa Taiwan menyilahkan seluruh tamu dari berbagai negara untuk datang berkunjung ke Taiwan, pihak pemimpin Daratan Tiongkok tidak memiliki hak untuk memutuskan atau menentukan hubungan Taiwan dengan dunia internasional.
Wawancara yang dilakukan dengan mengambil lokasi Taman Twin Oaks di Washington DC tersebut, Hsiao Bi-khim banyak membahas persaingan dengan Daratan Tiongkok yang kerap terjadi, ditambah dengan berbagai sederet hal lainnya, sehingga muncullah berbagai hubungan, misalnya hubungan militer antara Amerika dan Taiwan, hubungan luar negeri dan kerjasama perdagangan.
Saat berbicara tentang inspirasi yang diterima Taiwan dari kejadian sikap pertahanan Ukraina tatkala menghadapi invasi Rusia. Hsiao Bi-khim menjelaskan bahwa Taiwan banyak belajar dari pengalaman yang ada, dimana tentu akan sangat membantu Taiwan dalam hal mencegah masuknya serangan Daratan Tiongkok, termasuk langkah perlindungan diri dalam menghadapi invasi Daratan Tiongkok. Pelajaran ini termasuk persiapan yang lebih baik dari pasukan cadangan dan warga sipil untuk mampu mempersiapkan diri, dan bisa bertindak sama dengan masyarakat Ukraina yang berkonfrontasi saat invasi Rusia.
Hsiao Bi-khim menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh Taiwan adalah untuk mencegah terjadinya kembali tragedi seperti di Ukraina di Taiwan. Tujuan utamanya adalah untuk mencegah terjadinya pertengkaran adu kekuatan, namun tetap ada skenario kondisi terburuk yang telah ada, dimana Taiwan sendiri sangat memahami semua harus dipersiapkan dengan matang dan tepat.
Ketika ditanya apakah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat yang baru, Kevin McCarthy, harus memenuhi janji sebelumnya terlebih dahulu, sebelum berkunjung ke Taiwan? Hsiao Bi-khim menjelaskan hal ini tentu merupakan keputusan Kevin McCarthy sendiri, namun yang jelas seluruh masyarakat Taiwan menyambut para pengunjung yang datang dari berbagai belahan negara di dunia.
Hsiao Bi-khim menekankan bahwa bagian pihak kepemimpinan di Beijing "Tidak memiliki hak untuk memutuskan atau menentukan bagaimana kita menghadapi dunia".
Media Associated Press dalam wawancara tersebut memaparkan bahwa otonomi Taiwan adalah salah satu isu yang sangat didukung oleh kedua partai politik di Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, pemerintah Amerika telah menjalankan kebijakan ambiguitas strategis. Tetapi setelah kunjungan mantan Ketua DPR Nancy Pelosi ke Taiwan Agustus tahun lalu, pihak Daratan Tiongkok malah menunjukkan kekuatan perang skala besar yang dimilikinya. Beberapa anggota kongres berpendapat bahwa Amerika Serikat sudah seharusnya meninggalkan kebijakan ambiguitas strategisnya dan memperjelas sikap Amerika Serikat akan berdampingan dan bahu membahu bersama dengan Taiwan saat berada di medan tempur.
Untuk penjelasan tersebut, Hsiao Bi-khim tidak memberikan jawaban atau pendapat, hanya mengatakan bahwa kebijakan diambil dan kondisi status-quo telah berlangsung selama puluhan tahun, dan meneruskan jalannya perdamaian.
Pada waktu yang bersamaan, Hsiao Bi-khim menjelaskan dengan melihat keberhasilan Ukraina dalam menghadang pasukan Rusia, Taiwan juga merasakan perlunya persiapan dan pengadaan senjata kebutuhan perang jenis Rudal Javelin, Rudal Stinger, Sistem Artileri Roket Mobilitas Tinggi atau HIMARS dan senjata berukuran kecil lainnya. Sebagian kebutuhan tersebut juga telah mencapai kesepakatan dalam pembahasan antara Taiwan dan Amerika.
Hsiao Bi-khim menunjukkan bahwa Taiwan berkomitmen untuk memastikan bahwa pasukan darat dapat segera beralih tugas menjadi pasukan senjata yang lebih tangguh secepat mungkin. “Ada teman-teman di Amerika Serikat yang meyakinkan kami, bahwa Taiwan adalah prioritas mereka yang sangat penting”, ujar Hsiao Bi-khim.
Berkenaan dengan pemberitaan oleh media Nikkei Asia Jepang, bahwa National Guard Amerika telah memulai Latihan militer dengan pihak Taiwan, Hsiao Bi-khim tidak memberikan komentar langsung, namun menyebutkan Taiwan sedang mencari cara untuk bekerja sama dengan National Guard Amerika guna memaksimalkan pelatihan yang dijalankan.
Hsiao Bi-khim menegaskan bahwa pengalaman Ukraina juga memberikan pelajaran bagi Amerika Serikat dan sekutu lainnya. Termasuk dapat berdiri bersama dengan negara yang berasaskan demokrasi yang tengah terancam, memberikan pernyataan yang konsisten kepada pemimpin lawan yang otokratis bahwa penggunaan kekuatan militer bukanlah suatu pilihan adalah hal yang sangat penting, karena penggunaan senjata akan mendapat tanggapan keras dan konsekuensi dari duia internasional.