(Taiwan, ROC) – Mantan Deputi Penasehat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), Matthew Pottinger pada Kamis (12/1) membeberkan, Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat (USINDOPACOM) sudah memiliki rencana untuk campur tangan dalam perang lintas selat, tetapi tidak bersedia untuk mengungkapkan detail lebih lanjut. Universitas Nasional Chengchi (NCCU) pada Kamis kemarin, menyelenggarakan simposium bertajuk “Kebebasan di Laut Badai: Apakah Taiwan Sudah Siap?”, Matthew Pottinger dan Mantan Kepala Staf Militer Taiwan, Lee Hsi-ming (李喜明) pun dilaporkan melakukan dialog pada pertemuan tersebut.
Menurut pemberitaan Voice of America (VOA), ketika ditanya apakah USINDOPACOM telah menyusun rencana intervensi militer untuk kemungkinan konflik di Selat Taiwan? Matthew Pottinger menyampaikan, Militer AS tidak hanya mengusulkan serangkaian rencana intervensi militer tetapi juga telah lama melaksanakan banyak pekerjaan terkait. Matthew Pottinger mengatakan, “Bukan hanya satu saja. Salah satu tugas pimpinan Komando Indo-Pasifik dan komando tempur lainnya adalah mempersiapkan berbagai kemungkinan yang berbeda”. Matthew Pottinger dalam sesi dialog juga menyebutkan, ketika krisis terjadi, komunikasi dan koordinasi antar negara adalah kuncinya, termasuk Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, Australia, atau Korea Selatan, dan negara lainnya harus memahami dengan jelas peran dan tanggung jawab mereka.
Beliau menegaskan, Presiden AS Joe Biden telah menegaskan sebanyak 4 kali, jika Negeri Panda menyerang Taiwan, maka dirinya akan mengirim pasukan AS untuk membantu mempertahankan Taiwan. Meskipun pernyataan Gedgung Putih selanjutnya tampak mundur ke posisi “ambiguitas kebijakan”, tetapi posisi Biden sendiri tidak goyah.
Matthew Pottinger menunjukkan, menurut Konstitusi AS, kebijakan luar negeri dirumuskan oleh presiden, sehingga pernyataan Biden bersifat indikatif, yakni pengiriman pasukan militer untuk mempertahankan Taiwan merupakan sinyal yang disengaja setelah melalui pertimbangan yang matang.