History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Prediksi CSIS Terhadap Kondisi Selat Taiwan Pada Masa Mendatang

  • 12 January, 2023
  • 鄭蕙玲
Prediksi CSIS Terhadap Kondisi Selat Taiwan Pada Masa Mendatang
Latihan militer RRT mengintervensi Taiwan (foto:Weibo)

(Taiwan, ROC) --- Wadah pemikir Amerika Serikat, Center for Strategic and International Studies (CSIS) baru-baru ini mengunggah cuitan melalui media sosial Twitter, yang menuliskan, jika Tentara Pembebasan Rakyat menginvasi Taiwan pada tahun 2026, maka hal tersebut akan sulit berhasil.

Menanggapi hal di atas, ahli Tiongkok merasa bahwa ini semata-mata dipublikasikan untuk menguji Tiongkok dalam menghadapi isu Selat Taiwan.

CSIS merilis laporan yang mengevaluasi perkembangan situasi Selat Taiwan akhir-akhir ini. Menilik perkembangan militer yang ada saat ini, jika Tiongkok menginvasi Taiwan pada tahun 2026, maka aksi tersebut akan meruntuhkan modernisasi Angkatan Laut Tiongkok, yang selama ini telah dibangun dengan jerih payah.

Sementara di lain pihak, Amerika Serikat bersama dengan Jepang dan Taiwan akan berakhir dengan kemenangan mutlak.

Laporan yang ditulis oleh CSIS menyita perhatian publik belakangan ini, serta menimbulkan diskusi panas di platform media sosial Tiongkok.

Seorang pakar hubungan internasional Tiongkok, Bao Cheng-ke (包承柯) menyampaikan, laporan yang dirilis oleh CSIS kali ini terkesan tengah berusaha “menggiring opini publik”, dengan tujuan utama adalah untuk menguji Tiongkok dalam menghadapi isu Selat Taiwan saat ini.

Ia menambahkan, pada masa lalu, AS mengungkapkan pendapat mereka perihal intervensi Tiongkok di Selat Taiwan, dengan menggunakan cara yang tidak terlampau jelas. Namun, dalam laporan kali ini, AS menjelaskan niat dan cara mereka dengan sangat gamblang.

Bao Cheng-ke menyampaikan, laporan yang dirilis oleh AS kali ini hanya berdasarkan perkiraan angka, dan tidak dapat mencerminkan situasi aktual yang terjadi di Selat Taiwan.

Sebaliknya, AS menggunakan cara ini untuk menciptakan situasi dengan skenario bahwa AS akan memasuki kawasan Selat Taiwan, untuk kemudian menguji aksi yang akan diambil oleh Tiongkok. Laporan ini dinilai tidak memiliki makna militer yang relevan.

Menanggapi aksi latihan militer Tiongkok yang gencar mengitari Taiwan belakangan ini, Bao Cheng-ke merasa bahwa ini hanya perluasan aksi politik yang akan digunakan untuk mengekang aksi campur tangan dari negara lain.

Latihan militer Tiongkok di atas tidak berarti bahwa perang akan segera pecah.

“Kedua pihak memiliki pandangan politik yang berbeda, tetapi masyarakat luas tidak menginginkan terjadinya perang,” lanjut Bao Cheng-ke.

Ia melanjutkan, Tiongkok dengan tegas menentang seluruh aksi campur tangan dari pihak luar. Dan jika memang benar-benar diperlukan, maka Negeri Tirai Bambu akan menggunakan hak sah-nya untuk mempertahankan integritas wilayah dan kedaulatan nasional.

Menurut laporan CSIS, jika perang benar-benar pecah, maka Tiongkok akan menderita kerugian besar dalam waktu 3 minggu. Di samping itu, kekuatan Angkatan Laut dan pasukan amfibi setempat akan terpuruk.

CSIS memprediksi, akan ada 10.000 personil militer yang tewas, serta 155 pesawat tempur dan 138 kapal induk milik Tiongkok yang musnah.

Di lain pihak, Angkatan Laut AS akan kehilangan 2 pesawat perang, serta 10 hingga 20 kapal perang induk dan 3.200 personil tewas. Angka ini diketahui berjumlah setengah dari jumlah personal yang dikerahkan dalam perang Irak dan Afghanistan, yang menghabiskan waktu selama 20 tahun.

Komentar

Terbarumore