(Taiwan, ROC) – Delegasi Partai Demokrat Bebas yang berkuasa di Jerman yang dipimpin oleh Wakil Ketua Partai dan Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Jerman dikabarkan akan mengunjungi Taiwan pada minggu depan, ini merupakan kunjungan pertama Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Jerman ke Taiwan.
Jerman saat ini dipimpin oleh koalisi tiga partai termasuk, Partai Demokrat Bebas (FDP). Partai FDP dalam beberapa tahun terakhir sangat bersahabat dengan Taiwan, bahkan pernah mengusulkan resolusi yang mendukung partisipasi Taiwan dalam organisasi internasional di Majelis Nasional. Kemudian sebelum pemilihan umum 2021, juga menghapus teks “Satu Kebijakan Tiongkok” dalam opini politik kampanye, dan mendukung rakyat Taiwan untuk secara bebas menentukan masa depan mereka sendiri.
Yayasan Friedrich Naumann, sebuah wadah pemikir dari Partai FDP telah mendirikan pusat inovasi global di Taipei pada tahun 2021 yang lalu, menjadikannya sebagai partai politik Jerman pertama yang mendirikan basis di Taiwan. Marcus Faber selaku Ketua Asosiasi Jerman-Taiwan, sebuah organisasi persahabatan Taiwan non-pemerintah terbesar di Jerman, bersama dengan Bettina Stark-Watzinger yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Riset Jerman, dll, diperkirakan akan datang mengunjungi Taiwan pada paruh pertama tahun ini.
Anggota Parlemen Jerman terus melakukan kunjungan ke Taiwan sejak Oktober tahun lalu (2022). Parlemen Jerman mengutus dua delegasi lintas partai untuk mengunjungi Taiwan pada bulan Oktober yang lalu, kemudian disusul oleh kunjungan 2 anggota parlemen dari Kelompok Persahabatan Taiwan pada bulan November.
Delegasi perwakilan Partai FDP yang beranggotakan 10 orang, diperkirakan akan tiba di Taiwan pada 9 januari, serta akan berkunjung selama 4 hari.
Anggota delegasi tersebut termasuk Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Jerman Marie-Agnes Strack-Zimmermann, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Parlemen Jerman Renata Alt, Juru Bicara Urusan Luar Negeri Partai FDP Ulrich Lechte, dll. Ini merupakan kunjungan pertama Ketua Komisi Pertahanan dan Hak Asasi Manusia Parlemen Jerman ke Taiwan dan memiliki makna yang sangat mendalam.
Wakil Ketua Partai FDP, Johannes Vogel saat sebelum keberangkatannya mengemukakan, Jerman harus mengembangkan strategi bersama dengan negara-negara demokrasi di kawasan Asia-Pasifik, serta memperhatikan masalah keamanan lokal dan mempromosikan perdagangan bebas, dengan demikian barulah memiliki kemampuan untuk merespons ketika krisis menyerang. Secara bersamaan juga dapat mencapai tingkat pencegahan yang mencukupi, guna menghindari terjadinya krisis yang sebenarnya.
Ketika diwawancara oleh DPA dirinya memperingatkan, di babak baru persaingan antara demokrasi dan kediktatoran, apa yang diucapkan oleh diktator harus ditanggapi dengan serius. Pemimpin Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jin-ping mengancam akan menyatukan Taiwan dengan kekuatan, ditambah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengirim pasukan ke Ukraina, “Setelah Putin adalah Xi Jin-ping”.
Salah satu pemimpin delegasi, yakni Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Jerman Marie-Agnes Strack-Zimmermann juga menyampaikan, pada Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok baru-baru ini, Xi Jin-ping mengatakan jika dirinya tidak akan menyerah untuk menggunakan kekuatan dalam menyelesaikan isu mengenai Taiwan. Anggota Partai FDP Jerman datang mengunjungi Taiwan pada awal tahun baru, menunjukkan jika pihaknya tidak dapat menerima adanya hukum rimba di kawasan Indo-Pasifik yang kembali muncul dan menjadi norma dalam politik internasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jerman telah mempromosikan kebijakan Indo-Pasifik baru, pada tahun 2021 yang lalu telah mengirim kapal perang ke Asia guna menyatakan tekadnya dalam mempertahankan kebebasan navigasi di laut, namun dalam perjalanannya sengaja menghindari Selat Taiwan, kala itu Marie-Agnes Strack-Zimmermann pun sontak menyatakan penentangannya.
Beliau menuturkan, karena demokrasi Taiwan mendapatkan ancaman, maka kapal Jerman harus melewati Selat Taiwan, guna menyoroti pentingnya navigasi bebas di Selat Taiwan dan mengirimkan sinyal ke pemerintah Beijing jika pihak Barat mendukung Taiwan.