(Taiwan, ROC) - Perihal sejumlah aksi protes skala besar anti kebijakan nol-COVID yang berlangsung di Tiongkok setelah sebuah kebakaran di Urumqi, Xinjiang yang menewaskan 10 orang, Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang (蘇貞昌) mengemukakan, aksi protes warga yang dijuluki “Revolusi Kertas Putih” ini adalah konsekuensi dari pengendalian terlampau ketat yang diberlakukan Tiongkok.
Dalam sebuah wawancara pada Senin pagi, Su mengatakan, negara-negara di dunia sedang melangkah untuk hidup bersama virus, Taiwan juga telah membuka perbatasan dan menyambut kunjungan warga asing, tapi Tiongkok hingga kini tetap mengadopsi kebijakan nol-COVID, berbagai protokol ketat yang diberlakukan telah menyusahkan kehidupan warga.
Ditanya apakah Tiongkok akan berusaha mengalihkan fokus warga dengan cara meluncurkan serangan militer ke Taiwan, Perdana Menteri menegaskan, Tiongkok adalah negara berdekatan yang mengadopsi sistem otoritarianisme, maka segala perubahan dan tindakannya akan dipantau erat oleh Taiwan.