(Taiwan, ROC) Digelarnya Sidang Global ke-11 Gerakan Dunia untuk Demokrasi (World Movement for Democracy/WMD) diharapkan bisa mempererat kerja sama negara-negara demokrasi dalam melawan manca tantangan yang muncul seiring ekspansi otoritarianisme melalui perang ekonomi, informasi dan kognitif.
Demikian ditegaskan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) saat menemui delegasi dari Amerika Serikat yang berkunjung ke Taiwan untuk menghadiri Sidang Global WMD, yang dijadwalkan digelar di Taipei pada 25-27 Oktober.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Chairman National Endowment for Democracy (NED) Kenneth Wollack, dan anggotanya mencakup Presiden merangkap CEO NED Damon Wilson, serta Maria Ressa, pemenang Penghargaan Nobel untuk Perdamaian merangkap Ketua Komite Pengarah Gerakan Dunia untuk Demokrasi.
NED, bersamaan dengan Yayasan Demokrasi Taiwan (TFD), adalah pengorgaisasi Sidang Global WMD di Taiwan tahun ini, yang akan dihadiri oleh lebih dari 200 aktivis demokrasi, pakar dan pembuat kebijakan dari 70 negara, bersama-sama membahas bagaimana menghadapi tantangan otoriter saat ini dan membantu mendorong momentum demokrasi.
Melalui sambutannya, Presiden Tsai mengungkapkan kembali harapan Taiwan bisa bekerja sama dan saling belajar dari mitra demokrasi sedunia dalam hal melawan penyebaran berita hoaks dan mendorong mobilisasi pertahanan negara.
Tsai mengatakan, “Menghadapi manca tangangan, Taiwan terus memperkuat ketangguhan pertahanan negara, termasuk mendirikan Biro Mobilisasi Rakyat pada awal tahun untuk mendukung pertahanan sosial. Kami juga berusaha menguatkan sistem defensi informasi negara untuk melawan penyebaran berita hoaks atau bentuk perang kognitif lainnya.”
Sementara itu, Chairman NED Kenneth Wollack mengatakan bahwa demokrasi Taiwan adalah model bagi dunia di tengah bangkitnya otoritarianisme internasional, juga sebuah alat untuk kestabilan dan kemakmuran yang meraih dukungan dari seluruh rakyat.