(Taiwan, ROC) – Tidak mengindahkan intimidasi militer dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), delegasi Senat Prancis dikabarkan akan tiba di Taiwan pada tanggal 7 September mendatang, menjadikannya sebagai negara besar Eropa pertama yang datang mengunjungi Taiwan setelah kunjungan Nancy Pelosi pada awal bulan Agustus yang lalu.
Delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden Dewan Urusan Eropa, dan Senator Cyrill Pellevat, serta Wakil Presiden Dewan Luar Negeri dan Pertahanan, Olivier Cadic, dan yang lainnya akan menjadi delegasi Kongres Prancis kedua pada tahun ini. Sebelumnya, Joel Guerrau yang menjabat sebagai Wakil Ketua Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Senat Prancis memimpin delegasi parlemen lintas partai datang mengunjungi Taiwan pada bulan Juni tahun ini (2022).
Dalam sebuah wawancara dengan media CNA, Wu Chih-chung (吳志中) selaku Kepala Perwakilan ROC di Prancis mengemukakan, delegasi senator Prancis yang kembali datang mengunjungi Taiwan setelah kunjungan Nancy Pelosi sangatlah penting dan bermakna. Beliau menunjukkan jika pada tahun lalu, baik Senat dan Majelis Nasional Prancis telah meloloskan resolusi untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam organisasi internasional. Kemudian, di bawah kerangka diplomatik Kongres, Alain Richard selaku Ketua Kelompok Persahabatan Taiwan datang berkunjung ke Taiwan.
Tahun ini, Kepala Yuan Legislatif, You Si-kun (游錫堃) juga mengunjungi serta bertemu dengan para senator dan anggota kongres Prancis di bawah kerangka diplomatik resmi parlemen, Wu Chih-chung (吳志中) mengatakan, “Diplomasi kongres adalah jembatan komunikasi penting antara Taiwan dan dunia, serta melambangkan suara dari orang-orang yang menegaskan nilai-nilai kebebasan demokrasi Taiwan. Dalam menghadapi tekanan Negeri Tirai Bambu, kunjungan para legislator merupakan sebuah wujud dukungan dan juga penentangan terhadap penggunaan kekuatan militer RRT dalam merusak status quo”.
Menteri Luar Negeri Prancis, Catherine Colonna pada pertemuan G7 serta forum-forum publik kongres lainnya, juga mengutuk latihan militer Negeri Tirai Bambu sebagai tindakan agresif dan tidak berlegitimasi. Wu Chih-chung (吳志中) menyampaikan, “Hubungan Prancis-Taiwan terus berkembang dari hari ke hari, serta dukungan Prancis untuk Taiwan serta stabilitas Selat Taiwan juga terlihat jelas dalam pidato pemerintah dan diplomasi kongres”.