(Taiwan, ROC) – Menurut pemberitaan Xinhua News Agency, menanggapi rencana kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Tan Ke-fei (譚克非) pada Selasa (26/7) kemarin mengklaim, Nancy Pelosi adalah “Posisi Nomor 3 Pemerintahan AS”, dan kunjungannya ke Taiwan akan semakin meningkatkan ketegangan di selat Taiwan, “Jika AS berjalan dengan caranya sendiri, maka militer RRT tidak akan pernah tinggal diam”. Ely Ratner selaku Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Urusan Keamanan Indo-Pasifik saat menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh media menyampaikan, anggota kongres AS memiliki hak untuk memutuskan rencana perjalanan mereka sendiri.
Dilansir dari pemberitaan Radio Free Asia, Ely Ratner menghadiri “Konferensi Tahunan Isu Laut Tiongkok Selatan” yang digelar oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (Center for Strategic and International Studies/CSIS) pada 26 Juli kemarin. Media Hong Kong bertanya, apakah mereka khawatir jika kunjungan Nancy Pelosi ke Taiwan dapat menyebabkan krisis di selat Taiwan? Dan bagaimana menanggapi peringatan oleh pihak pejabat dan militer Negeri Tirai Bambu? Ely Ratner hanya menjawab singkat, yakni anggota kongres AS berhak menentukan rencana perjalanan mereka sendiri. “Mengenai isu ini, saya tidak akan berbicara tentang kemungkinan rencana perjalanan untuk anggota parlemen. Pada umumnya, Kementerian pertahanan memberikan pengarahan kepada anggota Kongres yang sedang mempertimbangkan perjalanan ke wilayah tersebut secara rutin. Kongres adalah cabang independen dan setara dari pemerintah AS, serta anggota parlemen dapat membuat rencana perjalanan mereka sendiri.”
Namun dalam pidato utamanya, Ely Ratner memperingatkan akan meningkatnya tindakan provokasi dari Tentara Pembebasan Rakyat (The People's Liberation Army/PLA) Negeri Panda di kawasan tersebut. “Menurut pendapat saya, perilaku agresif dan tidak bertanggung jawab (Pemerintah Beijing) ini, adalah salah satu ancaman paling signifikan bagi perdamaian dan stabilitas regional saat ini, termasuk di Laut Tiongkok Selatan. Apabila PLA terus melanjutkan pola perilaku seperti ini, maka cepat atau lambat sesuatu yang besar ataupun ‘kecelakaan’ akan terjadi.”
Ely Ratner menyampaikan, dalam beberapa bulan terakhir, “perilaku tidak aman dan tidak profesional” kapal dan pesawat militer PLA telah meningkat drastic, termasuk mencegat pesawat militer Australia di wilayah internasional Laut Tiongkok Selatan, mengganggu pesawat patrol Kanada di Laut Tiongkok Timur, atau memblokir dan melecehkan kapal legal Filipina dan Vietnam.
“Beijing secara sistematis menguji batas tekad kolektif kita”, kata Ratner kepada para peneliti terkait militer pada pertemuan tersebut.