(Taiwan, ROC) – Wakil Menteri Luar Negeri, Tseng Hou-jen (曾厚仁) pada 7 Juli mengemukakan, banyak negara di Eropa Timur yang secara geografis berjauhan, namun geopolitiknya sangat erat dan saling mempengaruhi. Beliau memperingatkan, jika demokrasi terlalu berpuas diri dan mengabaikan tekanan dari pihak Republik Rakyat Tiongkok (RRT), maka ditakutkan akan “mengantarkan bencana baru.”
Tahun ini merupakan peringatan 100 tahun pembentukan hubungan diplomatik antara Lituania dan Amerika Serikat (AS), Kongres Lituania pada 7 Juli kemarin menggelar forum peringatan dengan tema “Kebebasan”, dan Taiwan merupakan satu-satunya negara yang diundang. Tseng Hou-jen (曾厚仁) menyampaikan pidatonya di forum “Mendefinisikan Eropa Utuh dan Bebas”.
Agresi skala penuh Rusia terhadap Ukraina pada 24 Februari yang lalu, kata Tseng Hou-jen (曾厚仁), telah mempercepat pembagian dunia menjadi dua kubu yang berlawanan, yaitu demokrasi dan otoritarianisme, serta kubu demokrasi menghadapi bahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dirinya menegaskan, konfrontasi antara demokrasi dan otoritarianisme membuat masing-masing wilayah di seluruh dunia semakin sulit mempertahankan “keseimbangan” dari berbagai kekuatan. Sebagian besar negara harus “memilih pihak”, dan mau tak mau harus mengungkapkan esensi mereka.
Di lain pihak, Tseng Hou-jen (曾厚仁) menunjukkan, perang Rusia-Ukraina telah membawa keamanan Eropa menjadi titik fokus kembali, dan berkemungkinan dapat berdampak pada kemajuan implementasi dan alokasi sumber daya dari strategi “Berporos ke Asia” AS. Namun, dalam jangka panjang, situasi baru di Eropa juga memaksa AS dan Uni Eropa untuk mempercepat penyesuaian strategi Indo-Pasifik mereka.